E-Health Tingkatkan Pasien HIV/AIDS Minum Antiretroviral

E-Health Tingkatkan Pasien HIV/AIDS Minum Antiretroviral

Di tengah endemi Covid-19 kita e-health wajib senantiasa mencermati pengobatan untuk orang dengan HIV atau AIDS walaupun bermacam. Kebijaksanaan terpaut Covid-19 sudah memperpuruk kaitan cadangan serta penyaluran antiretroviral di Indonesia. Perserikatan Bangsa-Bangsa buat Penindakan AIDS UNAIDS berspekulasi kalau cuma 17% dari seluruh orang yang telah di nyatakan. Selaku penderita dengan HIV atau AIDS di Indonesia memperoleh pengobatan antiretroviral.

Dari persentase kecil orang yang memperoleh pengobatan antiretroviral, tingkatan disiplin komsumsi obat antiretroviral pula bermasalah. Suatu studi terkini di 4 kota besar, ialah Jakarta, Bandung, Yogyakarta, serta Denpasar yang mengaitkan 831 kontestan. Dengan HIV atau AIDS yang menempuh pengobatan antiretroviral membuktikan kurang dari setengah keseluruhan kontestan taat minum obat.

UNAIDS memutuskan jumlah virus yang amat kecil di dalam badan seorang. Di dasar 200 copies atau mililiter membawa alamat tingkatan disiplin penderita dalam komsumsi. Dari studi di 4 kota besar itu, cuma 48% dari kontestan yang hadapi penyusutan jumlah virus. Di dalam badannya sampai di dasar 200 copies atau mililiter di badannya.

Sementara itu minum obat otak virus tiap hari sanggup merendahkan jumlah virus dalam badan banyak orang dengan HIV atau AIDS. Pemakaian teknologi buat layanan kesehatan dikenal dengan e-health untuk menegaskan penderita komsumsi obat otak virus. Ataupun antiretroviral tiap hari berpotensi tingkatkan disiplin penderita buat minum obat.

Yang Mendesak Ketidakpatuhan Minum Obat

HIV atau AIDS merupakan penyakit parah alhasil penderita wajib taat minum obat tiap hari sejauh hidupnya. Terlebih, penderita dapat jadi resistan kepada obat antiretroviral bila tidak taat dalam komsumsi obat itu. Maksudnya, obat itu tidak lagi efisien dalam memencet kemajuan virus di dalam badan seorang. Di Indonesia, UNAIDS berspekulasi pada 2008 terdapat 640.000 orang yang hidup dengan HIV atau AIDS, serta 46.000 di antara lain ialah permasalahan terkini.

Belum terdapat informasi nasional mengenai berapa persen penderita yang telah komsumsi obat antiretroviral yang hadapi penyusutan jumlah virus di dalam darah. Penderita dengan HIV atau AIDS mengalami bermacam tantangan dalam menjaga disiplin pengobatan.

Awal, mereka sedang mengalami stigma dari warga serta aparat kesehatan sebab anggapan yang salah. Salah satu pemikiran galat itu merupakan penyakit ini berhubungan dengan sikap yang kurang baik. Stigma membuat penderita tidak ingin dikenal status HIV nya oleh banyak orang dekat, tercantum keluarga.

Perihal ini beresiko membatasi penderita komsumsi obat dengan tertib ataupun mengutip obat di layanan kesehatan. Sering- kali penderita pula menstigma dirinya selaku akibat dari stigma di warga. Penderita menyangka dirinya tidak pantas diatasi alhasil merasa tidak butuh mencermati kesehatan dirinya serta merendahkan dorongan komsumsi obat.

Kedua, bermacam permasalahan kesehatan jiwa, semacam takut serta tekanan mental, pula bisa dirasakan oleh para penderita. Sebagian riset membawa alamat kalau penderita dengan HIV yang memiliki kendala jiwa mengarah hadapi penyusutan dorongan dalam komsumsi obat antiretroviral. Dengan begitu, penderita butuh dibantu dari bermacam bagian buat senantiasa taat pada pengobatan serta bermacam tata cara potensial yang bisa menolong mereka butuh dikaji.

Studi Daya Guna E-Health Buat Tingkatkan Kepatuhan

Dikala ini Universitas Padjajaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Udayana, serta Unika Arwah Berhasil lagi melaksanakan riset kombinasi buat menilai pemakaian short text message SMS pengingat di Indonesia. Kontestan riset itu merupakan populasi kunci penderita dengan HIV atau AIDS, ialah wanita pekerja seks, pria yang berkaitan seks dengan pria yang lain, waria, serta konsumen napza suntik.

Hasil riset ini dapat jadi masukan yang bermanfaat buat lebih memikirkan eksploitasi teknologi SMS dalam pengobatan antiretroviral. Studi di sebagian negeri membuktikan pemakaian teknologi komunikasi semacam program interaktif berplatform pc fitur lunak ataupun web, pengarahan lewat telepon ataupun film call, pengiriman catatan pendek ataupun SMS pada penderita bisa tingkatkan disiplin penderita HIV atau AIDS dalam komsumsi obat antiretroviral ataupun tiba pengawasan ke layanan kesehatan.

Di antara metode-metode itu, SMS pengingat ialah yang paling banyak dipakai serta diawasi. Riset di Kenya serta Brazil menciptakan kalau 50-75% penderita yang memperoleh SMS pengingat dengan cara teratur sanggup menggapai tingkatan disiplin yang amat bagus. Golongan yang tidak memperoleh SMS pengingat pula sanggup menggapai tingkatan disiplin besar tetapi jumlahnya lebih kecil cuma dekat 40-50%.

Daya SMS

Para periset di Kenya serta Brazil merumuskan kenaikan disiplin ini terpaut dengan terdapatnya sistem yang menegaskan mereka komsumsi obat dengan cara teratur. Pemakaian tata cara SMS ini pula butuh memikirkan gelombang serta isi catatan pengingat. Sebagian riset pula membuktikan kalau SMS pengingat yang diserahkan tiap minggu lebih efisien dibanding dengan yang diserahkan tiap hari.

Isi catatan yang cuma menegaskan pula teruji lebih efisien dibanding dengan catatan yang memotivasi buat minum obat. SMS pengingat yang bertabiat 2 arah penderita bisa menanggapi SMS itu teruji lebih efisien dalam tingkatkan disiplin dari yang bertabiat satu arah penderita cuma menyambut catatan pengingat. SMS pengingat memiliki sebagian keunggulan dibanding teknologi yang lain.

Awal, tata cara ini telah teruji efisien di bermacam negeri bertumbuh buat tingkatkan disiplin pengobatan pada penderita dengan HIV atau AIDS. Kedua, SMS ialah teknologi yang tidak menginginkan sarana ponsel pintar alhasil bisa menjangkau warga dengan cara lebih besar.

Memakai E-Health Buat Kendalikan HIV

Dikala ini warga biasa dapat mencari data mengenai HIV atau AIDS serta peradangan meluas intim lewat situs-situs website, semacam Sistem Data HIV atau AIDS& IMS online SIHAWEB yang diadakan Departemen Kesehatan, web kepunyaan Pusat Riset HIV atau AIDS Unika Arwah Berhasil, ataupun web orang individu semacam dokter Baik Belas kasihan Prabowo, yang memiliki perhatian kepada suasana HIV atau AIDS di Indonesia.

Eksploitasi teknologi di Indonesia butuh ditingkatkan bukan cuma buat membagikan data tetapi pula buat campur tangan. Buat tingkatkan eksploitasi e-health sebagian perihal butuh dicoba. Awal, butuh dicari wujud e-health yang pas buat populasi penderita dengan HIV atau AIDS di Indonesia. Perihal ini dapat dicoba dengan, misalnya, memohon opini dari penderita ataupun handal kesehatan.

Kedua, melaksanakan analisis kesusastraan yang analitis mengenai daya guna pemakaian e-health buat tingkatkan disiplin pengobatan penderita dengan HIV atau AIDS. Hasil analisis kesusastraan itu dapat dipakai selaku bimbingan bentuk e-health yang cocok buat Indonesia.

Ketiga, melaksanakan percobaan coba aplikasi e-health pada populasi khusus, misalnya di satu wilayah. Hasil dari percobaan coba ini dapat membagikan cerminan apakah tata cara ini dapat diaplikasikan dengan cara besar di daerah-daerah lain.